PLATYE — Jakarta – Cacar air, atau dalam istilah medis disebut varicella, adalah penyakit menular yang umum terjadi, terutama pada anak-anak. Meski tergolong penyakit ringan, cacar air bisa menjadi serius jika menyerang orang dewasa, ibu hamil, atau individu dengan sistem imun yang lemah. Penyakit ini disebabkan oleh virus varicella-zoster dan menyebar dengan sangat cepat melalui kontak langsung maupun udara.
Gejala cacar air kerap kali diawali dengan demam dan rasa tidak enak badan sebelum muncul ruam khas berbentuk bintik merah yang gatal. Dalam waktu singkat, bintik-bintik ini akan berkembang menjadi lepuhan berisi cairan. Meski pada sebagian besar kasus akan sembuh dengan sendirinya dalam waktu 1 hingga 2 minggu, penting untuk mengenali tanda-tanda awalnya guna menghindari komplikasi yang lebih serius.
Tanda-tanda Cacar Air yang Perlu Diwaspadai
Menurut laman NHS UK dan CDC, cacar air memiliki tahapan gejala yang khas dan mudah dikenali. Gejala awal biasanya muncul 1–2 hari sebelum ruam terlihat, dan mencakup:
- Demam ringan hingga tinggi
- Sakit kepala
- Kehilangan nafsu makan
- Rasa lelah dan lemas
Setelah itu, muncul ruam yang berkembang dalam tiga tahap:
- Tahap Pertama: Bintik Merah
- Bintik-bintik merah kecil muncul di seluruh tubuh, bisa dimulai dari dada, punggung, atau wajah. Pada beberapa orang, bintik ini juga bisa muncul di dalam mulut atau area genital.
- Tahap Kedua: Lepuhan Berisi Cairan
- Bintik-bintik berubah menjadi lepuhan (blister) berisi cairan jernih. Lepuhan ini sangat gatal dan mudah pecah.
- Tahap Ketiga: Lepuhan Mengering dan Membentuk Keropeng
- Lepuhan akan mengering dan berubah menjadi koreng atau keropeng yang akhirnya mengelupas.
Gejala pada orang yang telah divaksin biasanya lebih ringan, mungkin hanya berupa beberapa bintik tanpa demam berat (breakthrough chickenpox).
Apa yang Harus Dilakukan Jika Mengalami Cacar Air
Jika Anda atau anak Anda mengalami tanda-tanda cacar air, berikut beberapa langkah yang disarankan berdasarkan NHS UK:
Perawatan di rumah:
- Minum air putih yang cukup untuk mencegah dehidrasi.
- Konsumsi parasetamol untuk meredakan nyeri dan demam (hindari ibuprofen karena dapat memicu infeksi kulit).
- Potong kuku anak dan pakaikan sarung tangan atau kaus kaki agar tidak menggaruk.
- Gunakan lotion atau gel penyejuk dari apotek untuk mengurangi rasa gatal.
- Mandi dengan air dingin dan keringkan tubuh dengan ditepuk, bukan digosok.
- Kenakan pakaian longgar agar kulit dapat “bernapas.”
Hal yang harus dihindari:
- Jangan menggaruk ruam karena dapat meninggalkan bekas luka.
- Hindari kontak dengan bayi baru lahir, ibu hamil, atau orang dengan sistem imun lemah.
- Jangan pergi ke sekolah, tempat kerja, atau tempat umum hingga semua ruam telah menjadi keropeng (biasanya 5 hari setelah ruam pertama muncul).
Kapan harus ke dokter?
Menurut CDC, segera hubungi layanan kesehatan jika:
- Gejala tiba-tiba memburuk.
- Anak tampak dehidrasi (jarang buang air kecil).
- Ruam menjadi merah, panas, dan nyeri (bisa jadi infeksi sekunder).
- Anda hamil dan belum pernah terkena cacar air sebelumnya.
- Anda memiliki sistem imun lemah (misalnya sedang menjalani kemoterapi).
Beberapa kasus bisa diobati dengan antivirus, namun harus dimulai dalam waktu 24 jam sejak ruam pertama muncul.
Cara Menghindari Penularan Cacar Air
Cacar air sangat menular dan menyebar melalui udara maupun kontak langsung. Menurut NHS UK, seseorang dapat menularkan cacar air dari 2 hari sebelum ruam muncul hingga seluruh ruam menjadi keropeng (sekitar 5–7 hari).
Langkah-langkah pencegahan:
- Hindari kontak dengan penderita cacar air.
- Tidak menyentuh atau berbagi barang yang terkontaminasi cairan lepuhan.
- Selalu mencuci tangan setelah menyentuh wajah atau benda umum.
- Gunakan masker bila berada dekat dengan penderita cacar air.
Vaksinasi Sebagai Perlindungan Utama
Menurut HSE Ireland, vaksin cacar air (varicella) sangat efektif dalam mencegah infeksi. Vaksin ini dapat diberikan kepada:
- Anak-anak usia di atas 12 bulan.
- Orang dewasa yang belum pernah terkena cacar air, terutama tenaga kesehatan atau yang tinggal serumah dengan pasien kanker atau imunokompromais.
Vaksin diberikan dalam dua dosis dan memberikan kekebalan pada 86–98% anak-anak. Meski seseorang tetap bisa tertular setelah vaksin, gejalanya biasanya ringan.