
GELOMBANG panas ekstrem kembali melanda Eropa pada musim panas ini, memicu lonjakan kasus penyakit, kematian massal, hingga kerusakan infrastruktur. Suhu udara di beberapa wilayah benua tersebut menembus angka 40 derajat celsius (104 derajat fahrenheit) pada Minggu (28/6), termasuk di Jerman, Republik Ceko, dan Polandia, yang berdampak langsung pada layanan transportasi.
Temukan lebih banyak
Di Prancis, otoritas kesehatan melaporkan 1.000 kematian melebihi perkiraan akibat gelombang panas yang dimulai sejak 20 Juni. Meskipun badai sempat melanda beberapa wilayah setelah suhu rata-rata mencapai 29,8 derajat celsius, satu kota di Prancis bahkan mencatat suhu ekstrem hingga 44 derajat celsius.
Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan bahwa total 1.300 kematian dilaporkan di seluruh Eropa sejak 21 Juni. Melalui unggahan di platform X, ia memperingatkan bahwa Eropa adalah benua dengan pemanasan tercepat di bumi, dengan laju dua kali lipat rata-rata global. Ia juga menekankan bahwa infrastruktur di Eropa tidak dirancang untuk menahan suhu setinggi ini.
Mengapa Gelombang Panas Mematikan?
Lembaga kesehatan publik Prancis mencatat bahwa mayoritas korban meninggal adalah lansia berusia 65 tahun ke atas. Namun, panas ekstrem ini berdampak pada kesehatan seluruh populasi.
Di Spanyol, seorang wanita berusia 90 tahun dan pria berusia 68 tahun dilaporkan meninggal akibat heatstroke. Sementara di Jerman, setidaknya tujuh orang tewas dalam insiden terkait gelombang panas, termasuk kecelakaan saat berenang di Berlin.
Garyfallos Konstantinoudis dari Grantham Institute menjelaskan bahwa bahaya utama gelombang panas adalah stres panas (heat stress). Kondisi ini terjadi saat tubuh kesulitan mengatur suhunya sendiri, yang memicu dehidrasi, kelelahan panas, hingga heatstroke.
Gejala Heatstroke: Suhu tubuh inti di atas 40 derajat celsius, kebingungan, kehilangan kesadaran, detak jantung cepat, dan pernapasan cepat. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat menyebabkan kegagalan organ atau kematian.
Fenomena ‘Heat Dome’ dan Perubahan Iklim
Ahli meteorologi menyebutkan bahwa suhu ekstrem ini disebabkan oleh heat dome atau kubah panas, area tekanan tinggi luas yang terbentuk di atas Eropa Barat. Fenomena ini diperkuat oleh pola cuaca omega block, yang mengunci udara panas di satu wilayah selama berhari-hari atau berminggu-minggu.
Para ilmuwan menegaskan bahwa perubahan iklim akibat aktivitas manusia membuat gelombang panas terjadi 30 kali lebih sering dibandingkan era pra-industri. Suhu rata-rata global saat ini telah meningkat sekitar 1,25 derajat celsius dan pada tahun 2024 sempat menyentuh angka 1,55 derajat celsius di atas level pra-industri.
Respons Negara dan Tantangan Masa Depan
Negara-negara Eropa mulai mengambil langkah adaptasi. Barcelona telah membuka lebih dari 500 tempat perlindungan iklim (climate shelters), sementara Paris dan Denmark meningkatkan pemantauan terhadap kesejahteraan lansia. Di tingkat kebijakan, konfederasi serikat pekerja Eropa mendesak penetapan undang-undang batas suhu kerja maksimum untuk melindungi buruh.
Namun, solusi jangka pendek seperti penggunaan pendingin ruangan (AC) justru menimbulkan dilema. United Nations Environment Programme (UNEP) memperingatkan bahwa AC meningkatkan pemanasan global karena konsumsi energi fosil dan penggunaan gas sintetis (hidrofluorokarbon) yang mencemari atmosfer.
UNEP merekomendasikan strategi pendinginan pasif seperti:
- Penanaman pohon secara masif di perkotaan.
- Standar perencanaan kota agar bangunan dan jalan dapat membuang panas, bukan menyerapnya.
- Penguatan sistem peringatan dini dan layanan kesehatan.
- Perlindungan hukum bagi pekerja luar ruangan dari paparan suhu tinggi.
Para ahli menekankan bahwa tanpa pengurangan emisi gas rumah kaca secara drastis, langkah-langkah adaptasi ini pada akhirnya akan menjadi tidak memadai untuk menghadapi tren pemanasan yang terus meningkat. (Al Jazeera/I-2)
