Bayangkan kamu punya harta karun warisan kakek berupa lukisan antik yang sangat indah, tapi setiap hari ada saja orang yang mencoba memotong kain lukisan itu untuk dijadikan alas duduk atau sekadar menambal baju. Kira-kira, apa perasaanmu? Itulah gambaran nasib Subak di Bali saat ini. Sistem irigasi tradisional yang sudah diakui dunia sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO ini sekarang lagi "dikeroyok" oleh kenyataan pahit bernama alih fungsi lahan.
DPRD Bali, melalui I Nyoman Suwirta, baru saja menyalakan alarm tanda bahaya. Mereka sadar betul kalau membiarkan sawah berubah jadi vila atau beton adalah resep bencana di masa depan. Kabar baiknya, para wakil rakyat ini mulai serius mendorong revisi Peraturan Daerah (Perda) tentang Subak. Tujuannya satu: supaya bantuan dana buat petani kita nggak lagi "seupil", tapi benar-benar bisa jadi napas buat mereka bertahan.
Sawah Kita Lagi "Diet" Ekstrem, Tapi Bukan Karena Sehat
Kalau kita bicara soal lahan sawah di Bali, kondisinya mirip seperti orang yang lagi kena penyakit kronis tapi nggak mau berobat. Data dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) Provinsi Bali bikin elus dada. Bayangkan, selama rentang waktu 2019 hingga 2024, luas sawah di Pulau Dewata menyusut drastis sebanyak 6.521,81 hektare.
Kalau dirata-ratakan, setiap tahun ada sekitar 1,53 persen sawah yang hilang. Ibarat kamu punya sepiring nasi, tiap hari ada saja sendok yang mengambilnya secara paksa. Dari total 70.995,87 hektare di tahun 2019, sekarang kita cuma sisa 64.474 hektare. Kalau laju "diet" ini nggak segera dihentikan, bukan mustahil beberapa dekade lagi, sawah di Bali cuma bisa kita lihat di dalam bingkai foto museum atau poster promosi pariwisata saja.
Sebenarnya, pemerintah sudah mencoba pasang pagar pembatas lewat Instruksi Gubernur Bali Nomor 5 Tahun 2025 yang melarang alih fungsi lahan. Tapi, ibarat memagari rumah dengan kawat berduri yang bolong-bolong, kebijakan ini seringkali kalah kuat sama godaan nilai ekonomi pembangunan properti yang jauh lebih "seksi" di mata pemilik modal.
Kenapa Subak Harus Diselamatkan? (Bukan Cuma Soal Beras, Lho!)
Mungkin ada yang nyeletuk, "Ya sudah, beli beras saja kan gampang, kenapa harus pusingin sawah?" Wah, tunggu dulu. Subak itu bukan cuma soal tempat nanam padi. Subak adalah sistem manajemen air yang super cerdas. Ini adalah kearifan lokal yang sudah berumur ratusan tahun, yang mengajarkan kita tentang gotong royong dan keseimbangan alam—atau yang orang Bali sebut sebagai konsep Tri Hita Karana.
Kalau Subak hilang, bukan cuma ketersediaan pangan yang terancam. Bayangkan pariwisata Bali tanpa pemandangan sawah hijau yang ikonik. Wisatawan datang ke Bali bukan cuma buat nongkrong di kafe estetik, tapi mereka mencari "jiwa" Bali. Jika sawah hilang, Bali kehilangan identitasnya. Kita nggak mau kan, Bali cuma jadi kumpulan beton yang panas dan macet total? Bagi kamu yang ingin tahu lebih dalam soal pentingnya menjaga ekosistem hijau, bisa intip tips gaya hidup berkelanjutan untuk menambah wawasan.
Dana Bantuan: Antara "Uang Kopi" dan Kebutuhan Nyata
Nah, ini bagian yang paling bikin geregetan. Selama ini, Bantuan Keuangan Khusus (BKK) untuk Subak dinilai masih jauh dari kata memadai. Berdasarkan Pergub Bali Nomor 61 Tahun 2025, setiap Subak cuma kebagian Rp15 juta per tahun. Padahal, jumlah Subak yang tersisa di Bali itu ada 2.883 unit.
Coba bayangkan, Rp15 juta untuk mengelola sistem irigasi, biaya perawatan, urusan hama, dan masalah operasional lainnya selama setahun? Itu belum cukup buat beli pupuk dan memperbaiki saluran air yang rusak kalau kena banjir. Angka ini bahkan lebih kecil dibanding tahun 2024 yang sempat menyentuh Rp50 juta. Lalu turun ke Rp25 juta, sempat terperosok ke Rp10 juta, dan sekarang cuma naik sedikit ke Rp15 juta.
Yang bikin kontras dan jadi sorotan dewan adalah perbandingannya dengan Bantuan Desa Adat yang malah naik sampai Rp300 juta per tahun. Bukan berarti Desa Adat nggak penting—justru keduanya adalah pilar—tapi menomorduakan petani yang menjadi tulang punggung ketahanan pangan adalah sebuah ironi. Petani itu seperti pemain belakang dalam sebuah tim sepak bola; mereka jarang dipuji saat menang, tapi kalau mereka "bobol", satu tim bakal kalah telak.
Solusi Kreatif: Revisi Perda Bukan Sekadar Ubah Huruf
Apa yang direncanakan DPRD Bali dengan merevisi Perda Subak adalah langkah awal yang sangat krusial. I Nyoman Suwirta menegaskan bahwa fokus mereka adalah menyiapkan payung hukum yang lebih kuat agar APBD 2027 bisa mengalokasikan anggaran yang lebih "manusiawi" buat para petani.
Revisi ini nggak cuma soal angka, tapi soal keberpihakan. Kita butuh kebijakan yang bisa melindungi petani dari serangan hama, masalah pupuk yang langka, hingga harga jual hasil panen yang seringkali dimainkan tengkulak. Kalau petaninya sejahtera, mereka pasti punya semangat lebih untuk mempertahankan sawahnya. Tapi kalau petaninya terus merugi, jangan salahkan mereka kalau akhirnya mereka lebih memilih menjual tanahnya ke pengembang properti.
Tantangan Masa Depan: Mampukah Kita Bertahan?
Dunia memang berubah cepat. Teknologi digital bikin semuanya serba instan, tapi kebutuhan akan nasi nggak bisa digantikan dengan aplikasi. Bali sedang berada di persimpangan jalan yang berat. Di satu sisi, ada kebutuhan untuk pembangunan ekonomi, tapi di sisi lain, ada warisan leluhur yang harus dijaga.
Revisi Perda ini adalah harapan baru. Harapan agar petani di Bali nggak lagi merasa sendirian berjuang di tengah sawah yang dikepung tembok-tembok tinggi. Kita butuh dukungan kolektif—dari pemerintah yang berani mengambil kebijakan tegas, hingga masyarakat yang sadar bahwa membeli beras lokal berarti ikut menjaga napas Pulau Dewata.
Jika kamu peduli dengan masa depan lingkungan kita, jangan ragu untuk terus memantau perkembangan kebijakan ini. Perubahan besar memang seringkali berawal dari langkah kecil seperti mengawal kebijakan daerah. Yuk, kita bantu suarakan agar Subak tetap lestari, karena Bali yang indah bukan cuma tentang hotel mewah, tapi tentang hamparan sawah yang menghijau di bawah sinar matahari.
Jadi, buat kamu yang tinggal di Bali atau sekadar pecinta pulau ini, sudah saatnya kita lebih peduli. Jangan sampai nanti anak cucu kita cuma tahu istilah "Subak" dari buku sejarah, bukan dari hamparan sawah nyata yang menyejukkan mata. Mari dukung langkah DPRD Bali untuk memberikan "gaji" yang layak bagi para pahlawan pangan kita. Karena jujur saja, tanpa mereka, pariwisata Bali bakal kehilangan "nyawa" utamanya.
Apakah menurutmu revisi Perda ini bakal cukup efektif menahan laju beton? Atau kita butuh gerakan yang lebih masif dari akar rumput? Yuk, diskusi di kolom komentar! Dan buat kamu yang penasaran bagaimana cara kita sebagai anak muda bisa berkontribusi lebih untuk bumi, cek artikel menarik lainnya di blog edukasi kita ini. Sampai jumpa di ulasan berikutnya, tetap kritis dan terus jaga bumi kita!
