
Jakarta – Makanan ultra-proses atau ultra-processed foods (UPF) semakin sering menjadi perhatian karena konsumsinya dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan. Selain berat badan dan penyakit metabolik, penelitian terbaru juga menyoroti kemungkinan hubungannya dengan kesehatan mental.
Kelompok makanan ini mencakup banyak produk yang mudah ditemukan sehari-hari, seperti mi instan, nugget, sosis, burger, ayam goreng, keripik, donat, es krim, hingga pizza. Produk tersebut umumnya dibuat melalui proses industri dan dapat mengandung cukup banyak gula tambahan, garam, lemak, serta kalori.
Dikutip dari NYPost, sebuah laporan yang dimuat dalam jurnal The Lancet kembali membahas kaitan konsumsi UPF dengan sejumlah penyakit kronis. Risiko yang sering diteliti mencakup obesitas, penyakit jantung, diabetes tipe 2, stroke, serta beberapa gangguan kesehatan lainnya.
Kini, perhatian juga mengarah pada kemungkinan kaitan makanan ultra-proses dengan depresi.
Risiko depresi ditemukan lebih tinggi
Penelitian yang dilakukan di Pakistan dan dipublikasikan dalam European Medical Journal Gastroenterology menemukan adanya hubungan antara konsumsi UPF dan peningkatan risiko depresi.
Dalam tinjauan tersebut, peningkatan risiko yang dilaporkan berada pada kisaran 20% hingga 50%. Analisis tersebut menggabungkan sembilan penelitian dengan total lebih dari 79.700 peserta.
Para peneliti mencatat bahwa hubungan tersebut tetap terlihat setelah sejumlah faktor lain diperhitungkan. Meski begitu, hasil ini menunjukkan adanya asosiasi dan belum dapat membuktikan bahwa konsumsi UPF secara langsung menjadi penyebab depresi.
Depresi dalam penelitian yang dianalisis berkaitan dengan gejala seperti kesedihan berkepanjangan, rasa putus asa, dan kehilangan ketertarikan terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai.
Mengapa makanan ultra-proses diduga berkaitan dengan suasana hati?
Ada beberapa kemungkinan mekanisme yang sedang diteliti. Salah satunya berkaitan dengan perubahan gula darah. Makanan dengan kandungan gula dan karbohidrat olahan yang tinggi dapat menyebabkan perubahan kadar gula darah yang cepat, yang pada sebagian orang dapat memengaruhi energi dan suasana hati.
Selain itu, pola makan yang didominasi UPF berpotensi membuat seseorang mengonsumsi lebih sedikit makanan kaya nutrisi. Beberapa zat yang penting bagi fungsi otak, seperti vitamin B, vitamin D, magnesium, serta asam lemak omega-3, umumnya lebih banyak diperoleh dari makanan utuh dan beragam.
Faktor lain yang menjadi perhatian adalah hubungan antara saluran pencernaan dan otak atau gut-brain axis. Komposisi mikrobiota usus diketahui dapat berinteraksi dengan sistem saraf dan berbagai proses biologis yang berkaitan dengan kondisi mental.
Sejumlah penelitian menemukan adanya perbedaan komposisi mikrobiota antara individu dengan depresi dan mereka yang tidak mengalami kondisi tersebut. Namun, hubungan ini masih terus diteliti untuk memahami mekanismenya secara lebih jelas.
Mengapa sulit mengurangi junk food?
Mengurangi makanan ultra-proses bukan perkara sederhana. Produk seperti makanan cepat saji, camilan kemasan, dan makanan siap santap tersedia hampir di mana-mana serta sering kali lebih praktis dan mudah diperoleh.
Di sejumlah negara, makanan ultra-proses bahkan menyumbang porsi besar dari total asupan energi harian masyarakat. Kondisi ini membuat perubahan pola makan membutuhkan kebiasaan baru, bukan sekadar menghindari satu atau dua jenis makanan.
Dr. Eva Selhub dari Harvard Health Publishing pernah menyarankan untuk mencoba periode singkat dengan memperbanyak makanan utuh dan mengurangi gula serta makanan olahan. Setelah itu, seseorang dapat mengevaluasi kembali perubahan yang dirasakan pada tubuh maupun suasana hati.
Namun, pendekatan tersebut bukan berarti seluruh makanan kemasan harus otomatis dihindari. Yang lebih penting adalah melihat pola makan secara keseluruhan dan memperbanyak makanan yang minim proses, seperti sayuran, buah, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, ikan, serta sumber protein lainnya.
Pada akhirnya, konsumsi junk food sesekali tidak serta-merta berarti seseorang akan mengalami depresi. Namun, menjadikan makanan ultra-proses sebagai bagian utama dari pola makan dapat mengurangi keberagaman nutrisi yang dibutuhkan tubuh.
Karena itu, membatasi makanan ultra-proses dan lebih sering memilih makanan utuh dapat menjadi langkah yang baik untuk mendukung kesehatan fisik sekaligus membantu menjaga pola makan tetap seimbang.
