PLATYE — Makanan ultraproses semakin mengisi rak toko bahan makanan. Ada rasa yang lebih kuat, tekstur yang menarik, dan rasa yang lebih enak di lidah dari makanan jenis ini. Dampak pada kesehatannya, bagaimanapun, adalah yang paling signifikan.
Makanan ultraproses yang populer di pasar termasuk mi instan, sereal manis, minuman saset, berbagai camilan, dan minuman dalam kemasan.
Terlalu banyak tambahan buatan, seperti pengawet, pemanis, dan perasa buatan, yang ditemukan dalam makanan ini, dapat berbahaya bagi kesehatan Anda.
Setelah banyak penelitian menunjukkan hubungan antara diabetes, obesitas, dan penyakit jantung, beberapa negara mengambil tindakan tegas.
Menurut Piprim Basarah Yanuarso, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), mengonsumsi makanan yang diproses secara ekstrim dapat menyebabkan masalah kesehatan pada anak.
Seperti dikutip dari Kompas.com, dia mengatakan bahwa makanan yang sangat diproses dapat membuat anak kecanduan karena rasanya yang lebih lezat dibandingkan dengan makanan tanpa proses pengolahan berlebih, yang memungkinkan anak-anak makan lebih banyak daripada yang mereka butuhkan.
Produsen makanan, di sisi lain, mengklaim bahwa pengolahan meningkatkan keamanan dan ketersediaan makanan serta menawarkan metode mudah dan murah untuk menyediakan makanan yang beragam dan bergizi.
Ilmu gizi rumit, dan sebagian besar penelitian hanya menemukan hubungan, bukan bukti, terkait dampak makanan ini terhadap kesehatan.
Pengelompokan makanan
Sebelum dikonsumsi, sebagian besar makanan mengalami proses, baik itu dibekukan, digiling, difermentasi, dipasteurisasi, atau dengan cara lain.
Bukan kandungan nutrisinya, ahli epidemiologi Brasil Carlos Monteiro dan rekannya pertama kali mengusulkan sistem untuk mengklasifikasikan makanan berdasarkan jumlah pemrosesannya pada tahun 2009.
“Makanan di bagian atas skala empat tingkatan tersebut terdapat makanan yang dibuat melalui proses industri dan dengan bahan-bahan seperti aditif, pewarna, dan pengawet yang tidak dapat kita buat sendiri di dapur rumah,” kata peneliti metabolisme dan diet Kevin Hall dari National Institutes of Health.
Direktur Program Kebijakan Pangan Bloomberg Philanthropies Neena Prasad mengatakan bahwa makanan kemasan sering dibuat agar murah dan lezat.
“Makanan ini memiliki kombinasi gula, garam, dan lemak yang tepat dan kita tidak bisa berhenti memakannya,” kata Prasada.
Namun, Hall menyatakan bahwa tingkat pengolahan bukan satu-satunya faktor yang menentukan seberapa sehat suatu makanan. Roti gandum utuh, yogurt, tahu, dan susu formula bayi, misalnya, semuanya diproses secara berlebihan tetapi tetap mengandung banyak nutrisi.
SUMBER HEALTH.KOMPAS.COM : Makanan Ultra-Proses, Apa Itu dan Mengapa Perlu Dibatasi