Pernah nggak sih kamu ngerasa kalau beli barang di toko sebelah rumah itu ribetnya minta ampun, sementara beli barang di e-commerce raksasa itu tinggal klik-klik manja, barang sampai depan pintu? Rasanya kayak beda kasta, kan? Nah, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan kayaknya lagi "kepikiran" hal yang sama. Mereka nggak mau UMKM lokal kita cuma jadi penonton di tengah gempuran belanja online yang makin canggih. Makanya, muncul sebuah gerakan yang namanya Gerakan One Marketplace (GOM).
Bayangkan Bajubodo itu seperti "Pasar Modern" yang eksklusif tapi sangat inklusif. Kalau dulu belanja kebutuhan kantor pemerintah daerah itu ibarat naik angkot yang sering ngetem lama di jalan, sekarang dengan Bajubodo, sistemnya berubah jadi kayak naik MRT—cepet, terukur, dan nggak pakai drama. Platform ini adalah kependekan dari Belanja Langsung Barang melalui Order Online. Simpel, kan?
Kenapa UMKM Harus "Pindah Rumah" ke Digital?
Dunia digital itu ibarat sebuah kota yang nggak pernah tidur. Kalau tokomu cuma buka di pinggir jalan yang sepi, ya jangan kaget kalau pembelinya cuma kucing lewat. Tapi, kalau tokomu masuk ke dalam aplikasi yang ramai pengunjung, peluang buat "jualan laris" itu terbuka lebar.
Data bicara, sejak Bajubodo mulai unjuk gigi di tahun 2023, sudah ada 30.777 produk dari 1.046 penyedia yang mejeng di sana. Bayangkan, itu lebih dari 30 ribu jenis barang yang siap dibeli oleh pemerintah daerah. Kebanyakan sih memang masih pemain lokal dari Makassar, tapi Irawan Dermayasamin Ibrahim, sang nakhoda di balik layar (Kepala Biro Pengadaan Barang dan Jasa Setda Sulsel), nggak mau cuma berhenti di situ. Beliau pengen "kue" ekonomi ini dinikmati oleh semua UMKM di 24 kabupaten/kota yang ada di Sulawesi Selatan.
Kenapa ini penting? Karena kalau uang belanja pemerintah cuma muter-muter di vendor besar dari luar daerah, UMKM lokal kita bakal jadi "penonton" di rumah sendiri. Padahal, produk lokal kita kualitasnya nggak main-main, lho!
Mengurai Benang Kusut Belanja Daerah dengan GOM
Seringkali, birokrasi itu diibaratkan seperti labirin yang bikin pusing. Pengen belanja barang kantor saja prosesnya harus tandatangan sana-sini, tumpukan kertas menumpuk, dan transparansi yang kadang masih remang-remang. Gerakan One Marketplace (GOM) ini hadir sebagai "GPS" yang menuntun arah.
Analoginya begini: bayangkan kamu lagi mau bikin acara makan bareng. Kalau kamu harus nanya ke 24 orang satu per satu soal menu, pasti ribet. Tapi kalau ada satu grup chat (baca: Bajubodo) di mana semua orang bisa lihat menu, harga, dan ketersediaan barang secara real-time, acara makan bareng itu bakal jauh lebih efisien.
Nilai transaksi yang mencapai Rp45,61 miliar di tahun 2025 itu bukan sekadar angka. Itu adalah bukti bahwa ketika pemerintah mau "melek digital", perputaran ekonomi lokal bisa melonjak drastis. Kalau kamu mau tahu lebih lanjut gimana caranya UMKM lokal bisa beradaptasi di era digital seperti ini, coba intip tips trik jualan online untuk pemula yang pernah saya bahas sebelumnya.
Target Besar: Bukan Cuma Sekadar "Jualan Online"
Mungkin kamu bertanya, "Apa sih bedanya sama toko online biasa?" Bedanya, Bajubodo punya "tulang punggung" aturan pemerintah. Jadi, transaksi yang terjadi di sana bukan cuma soal klik-beli-bayar, tapi juga soal pertanggungjawaban anggaran yang sesuai dengan regulasi.
Dalam jangka pendek, GOM menargetkan untuk menjaring setidaknya satu kabupaten dan satu kota untuk benar-benar mengoptimalkan sistem ini. Ini ibarat membangun pondasi rumah. Kalau pondasinya kuat, rumah setinggi apa pun bisa berdiri kokoh. Target menengahnya? Semua 24 kabupaten/kota di Sulsel sudah harus "nyambung" dalam satu ekosistem digital.
Dan kalau ngomongin jangka panjang, ini adalah soal kemandirian daerah. Bayangkan sebuah ekosistem di mana pemerintah daerah bisa dengan mudah mendapatkan barang kebutuhan mereka dari UMKM yang jaraknya cuma beberapa kilometer dari kantor. Ongkir murah, barang cepat sampai, UMKM lokal sejahtera, dan pendapatan daerah pun terukur dengan rapi. Itu adalah "trifecta" (tiga kemenangan sekaligus) yang sangat ideal.
Digitalisasi: Membuka Gerbang Peluang yang Tersembunyi
Banyak yang bilang, "Ah, UMKM lokal mah gaptek." Padahal, itu cuma mitos. Yang mereka butuhkan sebenarnya adalah "jembatan". Selama ini, banyak UMKM kita punya produk hebat—mulai dari kerajinan tangan khas Sulsel, ATK kantor yang berkualitas, hingga katering makanan—tapi mereka nggak punya akses ke "pembeli besar" seperti instansi pemerintah.
Gerakan One Marketplace ini adalah jembatan beton yang kokoh itu. Dengan masuk ke sistem Bajubodo, UMKM lokal nggak perlu lagi pusing mikirin biaya promosi yang mahal atau harus ikut tender yang persyaratannya bikin pening. Cukup pajang produk, pastikan kualitas terjaga, dan biarkan sistem bekerja.
Bagi para pembaca yang punya jiwa wirausaha, belajar dari langkah Pemprov Sulsel ini sangatlah krusial. Digitalisasi bukan lagi pilihan, melainkan sebuah kebutuhan. Kalau pemerintah saja sudah berani bertransformasi dari cara manual ke marketplace digital, kenapa kita sebagai pelaku usaha masih betah dengan cara-cara lama? Kalau penasaran tentang bagaimana tren digitalisasi ini memengaruhi kehidupan kita sehari-hari, kamu bisa baca analisis mendalam di artikel tren masa depan agar makin melek teknologi.
Menuju Sulawesi Selatan yang Lebih "Digital-Friendly"
Jadi, apa kesimpulannya? Gerakan One Marketplace ini adalah langkah berani untuk "merapikan" alur belanja daerah. Ini adalah upaya untuk membuat proses birokrasi yang tadinya terlihat berat dan kaku, jadi lebih luwes, transparan, dan pastinya mendukung ekonomi akar rumput.
Sulawesi Selatan punya potensi luar biasa. Dengan 24 kabupaten/kota yang punya karakteristik unik—dari dataran tinggi yang dingin sampai pesisir pantai yang kaya hasil laut—kalau semuanya disatukan dalam platform Bajubodo, dampaknya akan sangat masif. Kita bicara soal ribuan lapangan kerja baru, efisiensi anggaran, dan kebanggaan menggunakan produk lokal.
Pesan moralnya? Jangan pernah remehkan kekuatan satu klik. Satu klik di aplikasi bisa jadi penyelamat bagi satu UMKM lokal di pelosok daerah. Satu klik bisa jadi cara pemerintah menghemat anggaran. Dan satu klik bisa jadi langkah awal bagi Sulawesi Selatan untuk menjadi provinsi yang paling melek digital di Indonesia Timur.
Jadi, buat kamu yang tinggal di Sulawesi Selatan atau sekadar pengamat ekonomi, yuk kita dukung gerakan ini. Karena pada akhirnya, keberhasilan ekonomi sebuah daerah itu bukan cuma tanggung jawab pejabat di kantor dinas, tapi juga kolaborasi kita semua. Mari kita lihat bagaimana Bajubodo bakal mengubah wajah belanja daerah menjadi jauh lebih fresh, up-to-date, dan pastinya, sangat membanggakan.
Siap untuk jadi bagian dari transformasi ini? Karena masa depan bukan lagi tentang siapa yang punya modal paling besar, tapi siapa yang paling cepat beradaptasi dengan perubahan zaman. Dan buat kita yang di Sulsel, masa depan itu sudah ada di genggaman, tepat di dalam aplikasi Bajubodo. Mari kita nantikan kejutan-kejutan selanjutnya dari Gerakan One Marketplace ini!
