Dunia seni tanah air kembali diselimuti mendung. Kabar duka yang bikin nyesek datang dari Yogyakarta. Seniman yang kita kenal dengan nama panggung Den Baguse Ngarso, atau yang bernama asli Susilo, baru saja menghembuskan napas terakhirnya. Kepergian beliau ini ibarat sebuah pertunjukan teater yang lampunya mendadak dipadamkan sebelum babak terakhir selesai; semua penonton kaget, bingung, dan pastinya merasa kehilangan.
Kematian memang misterius. Dia seperti tamu tak diundang yang tidak pernah mengirim pesan WhatsApp terlebih dahulu. Bagi keluarga, kepergian Susilo ini benar-benar terasa seperti sambaran petir di siang bolong. Padahal, sehari sebelumnya, beliau masih menjalani rutinitas seperti biasa. Tidak ada tanda-tanda "kerusakan mesin" yang berarti, setidaknya itulah yang terlihat di permukaan.
Mengenang Sosok yang Masih Beraktivitas Normal
Bayangkan sebuah Smartphone yang baterainya masih 80%, layarnya masih terang benderang, dan aplikasinya masih lancar jaya dipakai scrolling media sosial. Tiba-tiba saja, perangkat itu mati total tanpa peringatan low battery. Begitulah kira-kira gambaran kondisi Den Baguse Ngarso di hari Minggu, 20 September 2026.
Menurut keterangan Hesti, sang kakak ipar, sore itu Susilo masih terlihat segar bugar. Beliau bahkan sempat menerima tamu dari sore hingga malam hari. Itu adalah sebuah interaksi sosial yang normal, layaknya kita yang sedang asyik nongkrong di kedai kopi. Bahkan, selera makannya pun masih terjaga; beliau sempat membeli bakmi di malam hari. Bagi banyak orang, makan bakmi adalah ritual kebahagiaan sederhana, bukan?
Namun, ada satu sinyal halus yang sempat terdeteksi. Susilo sempat mengeluhkan rasa tidak nyaman di bagian dada kirinya. Analogi sederhananya, seperti mesin mobil yang tiba-tiba mengeluarkan bunyi "tek-tek-tek" kecil saat sedang melaju di jalan tol. Kita seringkali mengabaikan suara kecil itu karena merasa "ah, masih bisa jalan kok." Kita cenderung berpikir bahwa tubuh kita adalah mesin yang tahan banting, padahal ada sistem internal yang mungkin sedang mengirimkan sinyal bahaya.
Detik-Detik Penemuan yang Menyayat Hati
Keluarga besar yang berlokasi di Mantrijeron, Kota Yogyakarta, kini harus menghadapi kenyataan pahit. Uri, keponakan beliau, menceritakan momen yang sangat memilukan. Saat itu, Uri datang ke rumah dan mendapati sang bibi—istri dari Susilo—sedang menangis sejadi-jadinya.
Pemandangan di dalam kamar itu sangat sunyi. Susilo ditemukan dalam posisi tidur menyamping, posisi yang biasanya sangat nyaman untuk beristirahat. Namun, ada yang berbeda. Saat Uri memberanikan diri menyentuh kaki pamannya, suhu dingin yang menusuk langsung menyapa. "Anyep dan kaku," begitu katanya. Dalam dunia medis, perubahan suhu tubuh pasca-kematian (yang kita kenal sebagai algor mortis) memang terjadi cukup cepat. Tapi bagi orang awam, itu adalah pertanda bahwa "baterai" kehidupan sudah benar-benar dicabut dari perangkatnya.
Kejadian ini mengingatkan kita pada pentingnya menjaga kesehatan jantung di tengah kesibukan yang padat. Seringkali, kita merasa "ah, saya masih muda" atau "saya masih kuat," padahal detak jantung adalah ritme kehidupan yang tidak bisa kita kompromikan. Jika kalian merasa ada yang "ganjil" di area dada, jangan pernah menunda untuk memeriksakan diri. Jangan biarkan sinyal warning dari tubuh hanya dianggap sebagai masuk angin biasa.
Analogi "Sistem Crash" dalam Tubuh Manusia
Jika kita bicara soal kesehatan, tubuh manusia itu persis seperti Sistem Operasi (OS) di komputer. Ada banyak proses yang berjalan di latar belakang (background processes). Kadang, ada bug yang tersembunyi yang tidak terlihat di Task Manager. Mungkin itu masalah kolesterol, tekanan darah, atau kelelahan otot jantung yang menumpuk.
Dalam kasus Den Baguse Ngarso, keluhan di dada kiri itu adalah log error yang sebenarnya sangat krusial. Namun, karena beliau adalah sosok seniman yang berjiwa besar dan mungkin terbiasa menahan diri, keluhan itu dianggap "angin lalu." Ini adalah pelajaran penting bagi kita semua. Jangan jadi pahlawan bagi orang lain jika kita sendiri sedang dalam kondisi "kritis."
Banyak dari kita yang punya etos kerja tinggi—menerima tamu, berinteraksi, dan tetap beraktivitas sampai larut malam. Tapi, tubuh kita bukan Robot. Kita butuh maintenance, kita butuh update firmware melalui istirahat yang cukup, dan kita butuh scan virus secara berkala melalui check-up medis.
Mengapa Kematian Mendadak Begitu Menghantam Mental?
Secara psikologis, kematian mendadak seperti yang dialami Susilo meninggalkan shock yang lebih dalam bagi orang-orang yang ditinggalkan. Jika seseorang sakit lama, kita punya waktu untuk bersiap mental, mengucapkan selamat tinggal, atau setidaknya memproses rasa sedih secara perlahan. Tapi jika mendadak? Itu seperti memutus koneksi internet saat kita sedang mengunggah file penting. Data kita belum tersimpan, pesan kita belum tersampaikan, dan tab yang terbuka masih banyak.
Keluarga di Mantrijeron tentu sedang melewati fase duka yang luar biasa. Dukungan dari lingkungan sekitar, teman sejawat, dan para penggemar Den Baguse Ngarso sangat dibutuhkan saat ini. Beliau bukan sekadar seniman; beliau adalah bagian dari memori kolektif masyarakat Yogyakarta.
Sebagai edukator kreatif, saya sering menekankan bahwa hidup ini hanyalah sebuah User Experience (UX). Kita ingin pengalaman hidup yang mulus, menyenangkan, dan berkesan. Namun, end-user license agreement (EULA) dari Sang Pencipta tidak pernah memberitahu kita kapan masa berlaku subscription kita akan berakhir. Yang bisa kita lakukan hanyalah membuat setiap detik berharga.
Pesan untuk Kita yang Masih Memiliki Waktu
Kisah Den Baguse Ngarso adalah pengingat keras bagi kita semua. Bahwa di balik ketenaran, di balik jadwal yang padat, dan di balik senyum yang kita berikan kepada tamu atau rekan kerja, ada "mesin" yang harus kita perhatikan.
- Dengarkan Tubuhmu: Jika ada nyeri di dada, sesak napas yang tidak biasa, atau kelelahan ekstrem, segera berhenti. Jangan paksakan diri untuk "makan bakmi" atau melakukan aktivitas berat jika tubuh sudah memberikan alert merah.
- Periksa "Hardware" Secara Berkala: Jangan menunggu sakit parah untuk ke rumah sakit. Medical check-up setahun sekali adalah investasi yang jauh lebih berharga daripada membeli gadget terbaru.
- Sayangi Orang Terdekat: Kita tidak pernah tahu kapan percakapan terakhir kita dengan seseorang akan terjadi. Sampaikan kasih sayang, maaf, dan terima kasih hari ini juga. Jangan menunda untuk menjadi baik.
Menutup Tirai dengan Penghormatan
Kepergian Susilo atau Den Baguse Ngarso tentu meninggalkan lubang besar di panggung seni kita. Namun, karya-karyanya, tawa yang pernah beliau bagikan, dan memori tentang beliau akan tetap hidup. Beliau telah menyelesaikan babak terakhirnya dengan tenang, dalam tidur yang panjang, di rumahnya sendiri.
Mungkin ini cara Tuhan memberikan "istirahat total" kepada beliau setelah lelah menghibur banyak orang. Tidak ada lagi rasa sakit di dada, tidak ada lagi lelahnya menemui tamu, dan tidak ada lagi beban duniawi yang menumpuk. Beliau sudah berpindah ke server yang lebih tenang, di mana semua orang bisa beristirahat dengan damai selamanya.
Mari kita kirimkan doa terbaik untuk almarhum Susilo. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan dalam melewati masa sulit ini. Dan untuk kita semua, mari gunakan sisa waktu kita dengan lebih bijak. Karena pada akhirnya, hidup bukan soal seberapa lama kita "on", tapi seberapa banyak dampak positif yang kita berikan saat perangkat kita masih menyala.
Jika kalian merasa artikel ini bermanfaat untuk mengingatkan sesama tentang pentingnya kesehatan dan menghargai waktu, silakan bagikan tulisan ini. Mari kita buat internet menjadi tempat yang lebih peduli, bukan hanya sekadar tempat untuk mencari sensasi. Selamat jalan, Den Baguse Ngarso. Terima kasih atas segala karya dan inspirasi yang pernah kau torehkan di dunia ini. Panggungmu boleh usai, namun cahayamu akan tetap bersinar di hati para penggemarmu. Tetap jaga kesehatan, teman-teman, karena setiap detak jantungmu adalah anugerah yang harus dirayakan dengan penuh tanggung jawab.
