
Jakarta – Kekhawatiran terhadap konsumsi kafein mendorong para peneliti mencari alternatif minuman yang tetap menawarkan manfaat teh. Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah teh berbasis beras dan biji-bijian yang diperkaya dengan nutrisi dari teh hijau.
Inovasi tersebut dikembangkan oleh sekelompok ilmuwan asal China. Mereka mencoba memanfaatkan beras sebagai media untuk membawa katekin, salah satu senyawa yang banyak ditemukan dalam teh hijau, tanpa membawa kandungan kafein dalam jumlah seperti teh pada umumnya.
Selama ini teh kerap dianggap sebagai pilihan bagi orang yang ingin mengurangi konsumsi kafein dibandingkan kopi. Namun, anggapan tersebut bukan berarti teh sepenuhnya bebas kafein.
Teh Hijau Tetap Mengandung Kafein
Teh yang berasal dari tanaman Camellia sinensis secara alami mengandung kafein. Jumlahnya dapat berbeda tergantung jenis teh, cara pengolahan, serta metode penyeduhan.
Sebagai gambaran, secangkir teh hijau berukuran sekitar 230 mililiter dapat mengandung sekitar 30-50 miligram kafein.
Bagi sebagian orang, jumlah tersebut mungkin tidak menjadi masalah. Namun, individu yang sensitif terhadap kafein dapat mengalami gangguan seperti sulit tidur atau jantung berdebar setelah mengonsumsinya.
Kondisi inilah yang menjadi salah satu alasan peneliti berusaha menghasilkan produk yang tetap memiliki komponen bermanfaat dari teh hijau, tetapi dengan kadar kafein yang lebih rendah.
Katekin Jadi Fokus Utama
Mengutip South China Morning Post, para ilmuwan tersebut mengembangkan metode fortifikasi menggunakan beras dan biji-bijian yang diperkaya nutrisi dari teh hijau.
Salah satu senyawa yang menjadi perhatian utama adalah katekin. Senyawa ini termasuk kelompok flavonoid dan merupakan bagian dari polifenol yang secara alami terdapat pada tanaman, terutama teh.
Para peneliti menyebut katekin sebagai salah satu komponen antioksidan penting dalam teh. Dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal Plant Biotechnology pada Maret 2025, mereka menyoroti potensi senyawa tersebut terhadap kesehatan manusia.
Pada teh hijau kering, kandungan katekin dapat mencapai sekitar 15-30 persen dari beratnya. Tingginya kadar senyawa tersebut membuat teh hijau banyak mendapat perhatian dalam penelitian terkait manfaat kesehatan.
Mengapa Katekin Dipisahkan dari Kafein?
Tujuan pengembangan teh beras ini bukan sekadar menghasilkan minuman baru. Para ilmuwan ingin menjadikan beras dan biji-bijian sebagai media untuk membawa katekin sekaligus mengurangi paparan kafein.
Katekin diketahui memiliki aktivitas antioksidan dan dalam berbagai penelitian juga dikaitkan dengan efek antibakteri serta antiinflamasi. Senyawa ini turut banyak diteliti karena potensinya dalam mendukung kesehatan jantung dan pembuluh darah.
Teh hijau sendiri sering dikaitkan dengan pengelolaan berat badan karena kandungan katekin dan senyawa bioaktif lainnya. Namun, manfaat tersebut tidak berarti bahwa teh hijau merupakan solusi tunggal untuk menurunkan berat badan.
Potensi untuk Konsumen yang Sensitif Kafein
Kafein sebenarnya dapat dikonsumsi oleh kebanyakan orang dalam jumlah yang wajar. Namun, tingkat sensitivitas setiap individu berbeda.
Pada orang yang sensitif, konsumsi kafein berlebihan dapat berkaitan dengan keluhan seperti insomnia, rasa gelisah, atau jantung berdebar. Karena itu, produk dengan kadar kafein lebih rendah berpotensi menjadi alternatif bagi konsumen yang ingin memperoleh senyawa bioaktif dari teh tanpa terlalu banyak mengonsumsi kafein.
Melalui teknik fortifikasi tersebut, para peneliti berharap beras dan biji-bijian dapat berfungsi sebagai media pembawa katekin. Dengan demikian, manfaat senyawa yang banyak dicari dari teh hijau dapat dikembangkan dalam bentuk minuman dengan kandungan kafein yang lebih rendah.
Meski menjanjikan, inovasi ini tetap perlu dilihat berdasarkan hasil penelitian lebih lanjut untuk mengetahui efektivitas, keamanan, serta manfaatnya ketika dikonsumsi manusia dalam jangka panjang.
